- Pengertian Kinerja Guru
Kata kinerja merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, yaitu dari
kata performance. Kata performance berasal dari kata to
perform yang berarti menampilkan atau melaksanakan. Dalam kamus besar
bahasa Indonesia kinerja adalah sesuatu yang dicapai, prestasi yang
diperlihatkan, atau kemampuan kerja. Menurut Mangkunegara, kinerja adalah hasil
kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh pengawai dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Sedangkan menurut Tjutju dan Suwatno, kinerja merupakan prestasi nyata yang
ditampilkan seseorang setelah yang bersangkutan menjalankan tugas dan perannya
dalam organisasi. Sementara Simamora lebih tegas menyebutkan bahwa kinerja
mengacu kepada kadar pencapain tugas-tugas yang membentuk sebuah pekerjaan
seseorang. Kinerja merefleksikan seberapa baik karyawan memenuhi persyaratan
sebuah pekerjaan.[1]
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat di simpulkan bahwa kinerja
adalah tingkat keberhasilan seseorang atau kelompok dalam melaksanakan tugas
sesuai dengan tanggung jawab dan wewenangnya berdasarkan standar kinerja yang
telah ditetapkan selama periode tertentu dalam kerangka mencapai tujuan
organisasi.
Sementara itu, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi
hasil pembelajaran siswa. Oleh sebab itu, guru sebagai kuli pendidikan yang
profesional di kelas pembelajaran siswa menuju kepribadian yang utuh,
menyaratkan sepuluh kompetensi dasar yang harus melekat padanya. Sepuluh
kompetensi ini, menurut Nana Sudjana, A.Muri Yusuf, dan Rochman Natawidjaja
adalah sebagai berikut:
1)
Menguasai bahan yang akan diajarkan
2)
Mengelola program belajar mengajar
3)
Mengelola kelas
4)
Menggunakan media/sumber belajar
5)
Menguasai landasan-landasan kependidikan
6)
Mengelola interaksi belajar mengajar
7)
Menilai prestasi siswa
8)
Mengenal fungsi dan program bimbingan dan konseling
9)
Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
10) Memahami
prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian
Operasionalisasi kompetensi dasar di atas, demikian menurut Natawidjaja,
menekankan pentingnya kinerja terpadu seorang guru dalam melaksanakan
profesinya. Jadi, kompetensi profesional guru akan memadai jika ditopang oleh
kompetensi personal dan sosial yang baik sehingga mengantarkannya pada
pembelajaran/pengajaran yang baik.[2]
Terdapat beberapa model kinerja (performance) guru dalam melaksanakan
proses belajar mengajar, di antaranya adalah:
a.
Model Rob Norris menyaratkan akumulasinya beberapa komponen kompetensi
mengajar yang harus dimiliki oleh seorang guru, yaitu:
-
Kualitas-kualitas personal dan profesional
-
Persiapan mengajar
-
Perumusan tujuan pengajaran
-
Penampilan guru dalam mengajar di kelas
-
Penampilan siswa dalam belajar dan
-
Evaluasi
b.
Model Oregan mengelompokkan kompetensi/kemampuan mengajar ke dalam lima kelompok,
yaitu:
-
Perencanaan dan persiapan mengajar
-
Kemampuanan guru dalam mengajar dan kemampuan siswa dalam
belajar
-
Kemampuan mengumpulkan dan menggunakan informasi hasil
belajar
-
Kemampuan hubungan interpersonal yang meliputi siwa,
supervisor dan guru sejawat
-
Kemampuan hubungan dengan tanggung jawab profesional
c.
Model Stanford membagi kemampuan mengajar guru ke dalam lima komponen. Tiga dari lima
komponen tersebut dapat diobservasi di kelas meliputi, komponen tujuan,
komponen guru mengajar, dan komponen evaluasi.[3]
- Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru
a.
Faktor Internal
Faktor internal kinerja guru adalah faktor yang datang dari dalam diri guru
yang dapat memengaruhi kinerjanya, seperti: kemampuan, keterampilan,
kepribadian, persepsi, motivasi menjadi guru, pengalaman lapangan, dan latar
belakang keluarga.
Faktor internal tersebut pada dasarnya dapat direkayasa melalui pre-service
training yaitu cara yang dapat
dilakukan dengan menyeleksi calon guru
secara ketat, penyelenggraan proses pendidikan guru yang berkualitas, dan
penyaluran lulusan yang sesuai dengan bidangnya. Sedangkan in-service
training, yaitu cara yang bisa dilakukan dengan menyelenggarakan diklat
yang berkualitas secara berkelanjutan.[4]
Selain itu, faktor internal Kinerja Guru adalah sistem kepercayaan yang
menjadi pandangan hidup (way of life) seorang guru besar sekali pengaruh
yang ditimbulkannya dan bahkan, yang paling berpotensi bagi pembentukan etos
kerjanya. Meskipun dalam realitas empirisnya (emphirical reality) etos
kerja seseorang tidak semata-mata bergantung pada nilai-nilai agama (sistem
kepercayaan) dan pandangan teologis yang dianutnya, tetapi pengaruh pendidikan
, informasi, dan komunikasi juga bertanggung jawab bagi pembentukan suatu
kerja.[5]
b.
Faktor eksternal
Faktor eksternal guru adalah faktor yang datang dari luar guru yang dapat
memengaruhi kinerjanya antara lain adalah:
- Gaji
Gaji merupakan salah satu bentuk kompensasi atas prestasi
kerja yang diberikan oleh pemberi kerja kepada pekerja. Menurut Handoko,
kompensasi adalah segala sesuatu yang diterima para karyawan sebagai balas jasa
untuk kerja mereka. Sedangkan menurut Tjutju dan Suwatno besar kecilnya
kompensasi menggambarkan tingkat kontribusi karyawan terhadap organisasi dan
besar kecilnya kompensasi juga menggambarkan besar kecilnya tanggung jawab
pekerjaan yang diemban oleh seorang karyawan dalam sebuah organisasi.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk
mengoptimalkan kinerja guru langkah yang perlu dilakukan ialah memberikan gaji
yang layak sesuai dengan tingkat kinerja yang diharapkan.
- Sarana dan prasarana
Sarana dan prasarana sekolah sangat menunjang pekerjaan
guru. Kita bisa membandingjkan antara guru yang dilengkapi sarana dan prasarana
yang memadai dengan guru yang tidak dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang
memadai. Guru yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai akan
menunjukkan kinerja yang lebih baik daripada guru yang tidak dilengkapi sarana
dan prasarana yang memadai.
- Lingkungan Kerja Fisik
Menurut Nitisemito, lingkungan kerja fisik adalah segala
sesuatu yang ada di sekitar para pekerja dan yang dapat memengaruhi dirinya
dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan. Lingkungan kerja merupakan
faktor situasional yang berpengaruh terhadap kinerja pegawai, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Lingkungan kerja dapat diubah sesuai dengan
keinginan pendesainnya. Oleh karena itu, menurut Zaenal dan Suharyo, lingkungan
kerja harus ditangani atau didesain agar menjadi kondusif terhadap pekerja
untuk melaksanakan kegiatan dalam suasana yang aman dan nyaman.
Ada beberapa faktor yang memengaruhi lingkungan kerja
fisik, yaitu: pencahayaan, pewarnaan, udara, kebersihan, kebisingan, dan
keamanan.
- Kepemimpinan
Menurut Harris gaya kepemimpinan antara lain, adalah;
-
The Autocratic Leader gaya kepemimpinan ini menganggap bahwa semua kewajiban
untuk mengambil keputusan, untuk menjalankan tindakan, dan untuk mengarahkan,
memberi motivasi, dan mengawasi bawahannya terpusat di tangannya.
-
The Participative Leader gaya ini menjalankan kepemimpinan dengan konsultasi,
tidak mendelegasikan wewanangnya untuk membuat keputusan akhir dan unutk
memberikan pengarahan tertentu kepada bawahannya, tetapi ia mencari beberapa
pendapat dan pemikiran dari para bawahan mengenai keputusan yang akan diambil.
-
The Free Rein Leader gaya kepemimpinan ini mendelegasikan wewenang untuk mengambil
keputusan kepada para bawahan dengan agak lengkap.
Jadi, tiga pola dasar gaya kepemimpinan tersebut,
mementingkan pelaksanaan tugas, hubungan kerjasama, dan hasil yang dapat
dicapai. Dengan demikian, gaya kepemimpinan yang paling tepat adalah suatu gaya
yang dapat memaksimumkan produktivitas, kepuasan kerja, penumbuhan, dan mudah
menyesuaikan dengan segala situasi.
Oleh karena itu, mengusahakan kepemimpinan yang baik
adalah sebuah keharusan dalam upaya meningkatkan kinerja guru.[6]
- Strategi Peningkatan Kinerja Guru
Rendahnya kinerja guru dapat menurunkan mutu pendidikan dan menghambat
tercapainya visi di suatu sekolah. Oleh karena itu, kinerja guru harus dikelola
dengan baik dan dijaga agar tidak mengalami penurunan. Bahkan, seharusnya
selalu diperhatikan agar mengalami peningkatan secara terus menerus.
Menurut Uhar, upaya untuk mengembangkan dan meningkatkan kinerja pengawai
pada dasarnya merupakan suatu kebutuhan organisasi yang tidak pernah berakhir. Bicara
mengenai peningkatan kinerja, perlu adanya strategi yang mampu mendorong
peningkatan kinerja secara optimal. Proses peningkatan kinerja tersebut dapat
dilakukan dengan beberapa tahapan,
yaitu; meningkatkan prestasi bawahan, meningkatkan kebiasaan kerja, melakukan
tindak lanjut yang efektif, melakukan tindakan disiplin yang efektif, dan
memelihara prestasi yang meningkat.
Ada dua strategi penting yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja
guru, yaitu; pelatihan dan motivasi kinerja. Pelatihan digunakan untuk
menangani rendahnya kemampuan guru. Sedangkan motivasi kinerja digunakan untuk
menangani rendahnya semangat dan gairah kerja.[7]
Kesimpulan
Kinerja adalah
tingkat keberhasilan seseorang atau kelompok dalam melaksanakan tugas sesuai
dengan tanggung jawab dan wewenangnya berdasarkan standar kinerja yang telah
ditetapkan selama periode tertentu dalam kerangka mencapai tujuan organisasi.
Guru adalah
pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi hasil pembelajaran siswa, menyaratkan
sepuluh kompetensi dasar yang harus melekat padanya.
Kinerja
guru tidak bisa terwujud begitu saja, tanpa dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Baik faktor internal maupun
eksternal yang sama-sama membawa dampak terhadap kinerja guru.
Ada dua
strategi penting yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja guru, yaitu;
pelatihan dan motivasi kinerja. Pelatihan digunakan untuk menangani rendahnya
kemampuan guru. Sedangkan motivasi kinerja digunakan untuk menangani rendahnya
semangat dan gairah kerja
Mohammad
Muchlis Solichin, Memotret Guru Ideal-Profesional, Surabaya: Pena Salsabila,
2013, Ed
Siswanto, Etika Profesi Guru
Pendidikan Agama Islam, Surabaya: Pena Salsabila, 2013.
Barnawi &
Mohammad Arifin, Kinerja Guru Profesional, Jogyakarta: Ar-Ruzz Media,
2014.
Ahmad
Barizi, Menjadi Guru Unggul¸Jogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar